Pengaruh Budaya Melayu-Nusantara dalam Pasar Kuliner Makkah

Di sekitar Masjidil Haram, di antara deretan restoran Timur Tengah, terdapat fenomena unik yang jarang dibahas secara akademik maupun populer: menjamurnya kuliner khas Melayu-Nusantara seperti bakso dan nasi campur.
Fenomena ini bukan sekadar soal selera makan, melainkan mencerminkan adaptasi budaya dan kebutuhan psikologis jamaah, khususnya dari Indonesia, Malaysia, dan Asia Tenggara yang mengalami homesick selama berada di Tanah Suci.
Jamaah Melayu-Nusantara dan Jejak Budaya di Makkah
Jamaah dari wilayah Melayu-Nusantara merupakan salah satu komunitas terbesar di Makkah. Sejak abad ke-19, komunitas Jawi telah membentuk ekosistem sosial, ekonomi, dan budaya tersendiri di Tanah Suci.
Makanan menjadi salah satu medium paling kuat dalam mempertahankan identitas budaya. https://www.jstor.org/stable/41304140
Bakso: Makanan Emosional, Bukan Sekadar Kuliner
Bakso memiliki karakteristik unik:
-
Rasa netral dan familiar
-
Mudah dicerna
-
Identik dengan keseharian di Indonesia
Dalam psikologi budaya, makanan seperti ini disebut comfort food, yaitu makanan yang mampu memicu rasa aman dan nostalgia.
Bagi jamaah yang lelah secara fisik dan mental, semangkuk bakso dapat menjadi penenang emosional instan.
Nasi Campur sebagai Simbol “Rumah” di Tanah Suci
Berbeda dengan nasi Arab yang dominan satu rasa, nasi campur menawarkan:
-
Variasi lauk
-
Sambal
-
Tekstur dan aroma yang familiar
Secara psikologis, keberagaman ini menyerupai pola makan rumahan, yang sangat dirindukan jamaah dalam perjalanan panjang ibadah.
Homesick pada Jamaah: Fenomena Nyata tapi Jarang Dibahas
Homesick bukan hanya terjadi pada pelajar atau perantau, tetapi juga jamaah ibadah jangka panjang seperti haji dan umroh.
Gejalanya meliputi:
-
Hilang nafsu makan
-
Emosi mudah turun
-
Keletihan mental
Konsumsi makanan familiar terbukti membantu menstabilkan emosi dan meningkatkan mood.
Pasar Kuliner Sekitar Masjidil Haram: Adaptasi Ekonomi Budaya
Melihat kebutuhan jamaah Asia Tenggara, pelaku usaha kuliner di Makkah mulai:
-
Menyesuaikan rasa
-
Menghadirkan menu Melayu
-
Menggunakan bahasa Indonesia/Melayu di etalase
Ini menunjukkan bahwa pasar kuliner Makkah bersifat adaptif terhadap budaya jamaah, bukan statis.
Kuliner sebagai Penopang Kekhusyukan Ibadah
Ketika kebutuhan emosional terpenuhi, jamaah cenderung:
-
Lebih fokus beribadah
-
Tidak mudah stres
-
Lebih stabil secara fisik
Dengan kata lain, bakso dan nasi campur berperan sebagai penopang psikologis tidak langsung dalam ibadah.
Bakso, Nasi Campur, dan Makna Kenyamanan Spiritual
Fenomena bakso dan nasi campur di sekitar Masjidil Haram bukanlah bentuk “kurang adaptasi”, melainkan strategi alami manusia untuk menjaga keseimbangan emosi di lingkungan asing.
Di balik kesederhanaannya, kuliner Melayu-Nusantara telah menjadi:
-
Jembatan budaya
-
Pengobat rindu rumah
-
Penjaga stabilitas psikologis jamaah
