Saat Harga Naik, Mengapa Rasulullah ﷺ Menolak Mematok Harga?
Ketika Harga Naik, Sejarah Selalu Mengulang Cerita yang Sama
Setiap kali sebuah peradaban mulai retak, ada satu gejala yang hampir selalu muncul lebih dulu: harga kebutuhan pokok yang semakin sulit dijangkau.
Roma tidak runtuh dalam satu malam. Para sejarawan mencatat bagaimana kekaisaran itu perlahan melemah ketika nilai mata uangnya terus dikurangi, inflasi meningkat, dan harga kebutuhan hidup melonjak. Pada tahun 301 M, Kaisar Diokletianus bahkan mengeluarkan aturan harga maksimum untuk berbagai barang dan jasa. Tujuannya sederhana: menghentikan kenaikan harga. Namun hasilnya justru sebaliknya. Barang menghilang dari pasar dan aktivitas ekonomi semakin terganggu.
Berabad-abad kemudian, dunia menyaksikan hiperinflasi di Jerman tahun 1923. Nilai uang runtuh begitu cepat hingga masyarakat membawa setumpuk uang hanya untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Yang hilang bukan hanya daya beli, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap sistem yang ada.
Di Prancis menjelang Revolusi Prancis, kemarahan rakyat tidak bermula dari teori politik yang rumit. Banyak sejarawan justru menunjuk melonjaknya harga gandum dan sulitnya memperoleh makanan sebagai salah satu pemicu utama ledakan sosial.
Bahkan pada tahun 2011, sejumlah peneliti menemukan hubungan yang menarik antara lonjakan harga pangan global dan kerusuhan sosial di berbagai negara. Ketika kebutuhan dasar menjadi sulit dijangkau, yang mulai goyah bukan hanya ekonomi, tetapi juga kepercayaan masyarakat.

Pertanyaan yang Selalu Muncul Saat Harga Melonjak
Ketika harga naik, reaksi masyarakat hampir selalu sama.
Mereka meminta pemerintah bertindak.
Mereka meminta harga dikendalikan.
Mereka meminta solusi yang cepat.
Dan hal yang paling sering muncul sepanjang sejarah adalah permintaan untuk menetapkan harga secara paksa.
Menariknya, situasi serupa pernah terjadi lebih dari 1.400 tahun yang lalu di Madinah.
Ketika Harga Naik di Madinah
Suatu hari harga-harga di Madinah mengalami kenaikan. Para sahabat datang kepada Rasulullah ﷺ dengan sebuah permintaan yang terlihat sangat masuk akal.
Mereka berkata:
"Wahai Rasulullah, harga-harga telah naik. Tetapkanlah harga untuk kami."
Jika melihat pengalaman sejarah dunia, inilah langkah yang sering diambil banyak penguasa. Ketika harga naik, negara turun tangan dan menentukan harga secara langsung.
Namun jawaban Rasulullah ﷺ justru mengejutkan.
Beliau bersabda:
"Sesungguhnya Allah-lah yang menentukan harga, yang menyempitkan, yang melapangkan, dan yang memberi rezeki."
Beliau kemudian menolak menetapkan harga secara paksa.
Hadits ini diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud dan Jami' At-Tirmidzi.
Mengapa Rasulullah ﷺ Menolak?
Sekilas, keputusan ini mungkin terasa tidak biasa.
Bukankah masyarakat sedang kesulitan?
Bukankah harga sedang naik?
Bukankah pemimpin seharusnya bertindak?
Para ulama menjelaskan bahwa pada saat itu kenaikan harga terjadi secara alami karena kondisi pasar, bukan karena penimbunan, manipulasi, atau kezaliman para pedagang.
Jika Rasulullah ﷺ menetapkan harga secara paksa dalam kondisi seperti itu, ada risiko munculnya ketidakadilan baru. Pedagang bisa dirugikan, pasokan bisa berkurang, dan pasar bisa kehilangan keseimbangannya.
Dengan kata lain, Rasulullah ﷺ tidak membiarkan rakyat menderita. Beliau justru menjaga agar solusi yang dipilih tidak menciptakan masalah yang lebih besar.
Pelajaran yang Lebih Dalam dari Sekadar Ekonomi
Hadits ini sering dibahas dalam kajian ekonomi Islam. Namun pelajarannya sebenarnya lebih luas daripada urusan pasar.
Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa seorang pemimpin tidak selalu harus mengambil tindakan yang paling populer.
Terkadang yang dibutuhkan bukan tindakan yang terlihat tegas, tetapi tindakan yang benar.
Beliau memahami bahwa kepercayaan masyarakat tidak dibangun dengan keputusan yang terburu-buru, melainkan dengan keadilan.
Karena itu, ketika menghadapi masalah, beliau tidak hanya melihat gejalanya. Beliau melihat akar persoalannya.
Kepercayaan Adalah Fondasi yang Tidak Terlihat
Sejarah menunjukkan bahwa banyak peradaban tidak hancur karena kekurangan sumber daya.
Mereka hancur ketika masyarakat kehilangan kepercayaan.
Ketika rakyat merasa sistem tidak lagi adil.
Ketika hukum hanya berlaku untuk sebagian orang.
Ketika keputusan dibuat karena kepanikan, bukan karena kebijaksanaan.
Dan justru di sinilah kita melihat salah satu keistimewaan kepemimpinan Rasulullah ﷺ. Di tengah tekanan dan tuntutan masyarakat, beliau tetap memilih jalan yang paling adil meskipun bukan yang paling mudah.
Pelajaran untuk Hari Ini
Kisah kenaikan harga di Madinah mengajarkan bahwa setiap masalah membutuhkan solusi yang tepat, bukan sekadar solusi yang cepat.
Rasulullah ﷺ tidak mengabaikan kesulitan rakyat. Namun beliau juga tidak mengambil keputusan yang berpotensi menimbulkan ketidakadilan baru.
Di tengah dunia yang sering menilai kepemimpinan dari seberapa cepat seseorang bertindak, Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kebijaksanaan sering kali dimulai dari memahami masalah secara utuh terlebih dahulu.
Karena pada akhirnya, yang menjaga sebuah masyarakat bukan hanya kestabilan ekonomi, tetapi juga kepercayaan yang lahir dari keadilan. Dan itulah warisan kepemimpinan yang tetap relevan hingga hari ini.
