Bagaimana Khadijah Mengalahkan Ketakutannya untuk Memulai Lagi?
Ketika Luka Lama Ikut Duduk dalam Setiap Keputusan
Pernah nggak, kamu sebenarnya sudah tahu apa yang ingin kamu lakukan, tapi tetap tidak bergerak?
Bukan karena kamu malas. Bukan karena kamu tidak punya kemampuan. Bahkan bukan karena kamu tidak tahu jawabannya.
Tapi karena ada suara kecil di dalam diri yang terus berbisik:
"Jangan terlalu berharap."
"Kamu pernah kecewa."
"Kamu pernah kehilangan."
"Kalau gagal lagi bagaimana?"
Yang membuat situasi ini rumit adalah kita sering tidak tahu apakah suara itu sebuah kebijaksanaan atau hanya luka lama yang belum selesai berbicara.
Di zaman sekarang, banyak orang hidup dengan pengalaman yang membuat mereka lebih berhati-hati. Pernah gagal dalam hubungan, gagal dalam bisnis, dikhianati teman, atau kecewa pada harapan yang tidak menjadi kenyataan. Tanpa sadar, pengalaman itu membentuk cara kita melihat masa depan. Penelitian psikologi modern bahkan menunjukkan bahwa pengalaman emosional yang kuat dapat memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan bertahun-tahun setelah peristiwa itu berlalu. Pembahasan tentang pengaruh pengalaman terhadap pengambilan keputusan dapat ditemukan melalui Psychology Today.
Khadijah Juga Pernah Mengenal Rasa Takut
Sering kali ketika mendengar nama Khadijah binti Khuwailid, yang terbayang adalah sosok perempuan kuat, sukses, dan penuh keyakinan.
Namun sebelum menjadi pendamping Rasulullah ﷺ, Khadijah adalah manusia yang juga pernah merasakan kehilangan.
Ia pernah menjalani kehidupan yang tidak selalu sesuai harapan. Ia pernah menghadapi perpisahan dan memulai kembali hidupnya. Ia tahu bagaimana rasanya membangun sesuatu lalu kehilangannya.
Karena itu, ketika kesempatan baru datang dalam hidupnya, bukan berarti tidak ada alasan untuk takut.
Justru orang yang pernah terluka sering kali memiliki alasan lebih banyak untuk ragu dibanding mereka yang belum pernah mengalami kegagalan.
