Mengapa Muslim Harus Beriman kepada Taurat dan Injil?

Kategori : Tips, Ditulis pada : 17 Juni 2026, 08:50:02

Iman Tidak Dimulai dari Al-Qur'an

Ketika berbicara tentang Islam, banyak orang mengira bahwa sejarah wahyu dimulai dengan turunnya Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad ﷺ. Padahal Al-Qur'an sendiri mengajarkan sesuatu yang berbeda. Islam tidak datang untuk menghapus seluruh sejarah wahyu sebelumnya, melainkan untuk menyempurnakan dan membenarkan rangkaian risalah yang telah Allah turunkan kepada para nabi terdahulu.

Karena itu, salah satu bagian dari rukun iman adalah mempercayai seluruh kitab yang diturunkan Allah kepada para rasul-Nya. Tidak hanya Al-Qur'an, tetapi juga Taurat, Injil, Zabur, dan kitab-kitab lain yang Allah wahyukan. Penjelasan tentang rukun iman dapat ditemukan melalui Kementerian Agama RI.

Beberapa Isi Kandungan Taurat dan Injil Yang Asli Menurut Al-Quran |  Liputan Al-Quran

Abdullah bin Salam dan Dua Kali Keimanan

Banyak ulama menjelaskan bahwa sebagian ayat Al-Qur'an menggambarkan orang-orang beriman dari kalangan Ahli Kitab yang menerima kebenaran ketika Al-Qur'an turun. Salah satu tokoh yang paling terkenal adalah Abdullah ibn Salam.

Sebelum memeluk Islam, beliau adalah seorang rabbi Yahudi yang dikenal luas karena ilmu dan kedudukannya. Ia telah beriman kepada Taurat sejak lama. Ketika Nabi Muhammad ﷺ datang membawa Al-Qur'an, Abdullah bin Salam mengenali tanda-tanda kenabian yang selama ini ia pelajari. Karena itulah ia menerima Islam, bukan karena meninggalkan wahyu sebelumnya, tetapi karena melihat kesinambungan wahyu yang berasal dari Tuhan yang sama.

Kisah ini menunjukkan bahwa keimanan kepada Al-Qur'an tidak mengharuskan seseorang menolak seluruh sejarah wahyu sebelumnya. Justru keimanan yang utuh melihat semua kitab samawi sebagai bagian dari satu rangkaian petunjuk ilahi.

Al-Qur'an Menghormati Taurat dan Injil

Menariknya, Al-Qur'an tidak pernah berbicara tentang Taurat dan Injil dengan nada merendahkan. Sebaliknya, Allah menggunakan ungkapan yang sangat mulia.

Tentang Taurat, Allah berfirman bahwa di dalamnya terdapat "petunjuk dan cahaya" (hudan wa nur). Ayat tersebut dapat dibaca melalui Quran.com Surah Al-Ma'idah Ayat 44.

Tentang Injil, Allah berfirman bahwa di dalamnya terdapat "petunjuk, cahaya, dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa" (hudan wa nur wa maw'izhah lil muttaqin). Ayat tersebut dapat dibaca melalui Quran.com Surah Al-Ma'idah Ayat 46.

Kata-kata seperti petunjuk dan cahaya bukanlah istilah yang digunakan untuk sesuatu yang dianggap tidak penting. Ini menunjukkan penghormatan Al-Qur'an terhadap wahyu-wahyu yang Allah turunkan sebelumnya.

Mengapa Tetap Harus Beriman kepada Kitab Sebelumnya?

Sebagian orang bertanya, jika Al-Qur'an adalah kitab terakhir dan paling sempurna, mengapa umat Islam masih diwajibkan beriman kepada Taurat dan Injil?

Jawabannya karena iman dalam Islam bukan hanya tentang menerima wahyu yang terakhir. Iman juga berarti mempercayai bahwa Allah telah membimbing manusia sepanjang sejarah melalui para nabi dan kitab-kitab-Nya.

Ketika seorang muslim beriman kepada Taurat dan Injil, ia sedang mengakui bahwa Allah telah berbicara kepada Nabi Musa dan Nabi Isa sebagaimana Dia berbicara kepada Nabi Muhammad ﷺ. Ia mengakui bahwa petunjuk Allah tidak dimulai pada abad ke-7, melainkan telah hadir sejak generasi-generasi sebelumnya.

Al-Qur'an Sebagai Penyempurna, Bukan Pesaing

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah menganggap Al-Qur'an datang untuk bersaing dengan kitab-kitab sebelumnya. Padahal Al-Qur'an menggambarkan dirinya sebagai musaddiqan lima baina yadaih, yaitu membenarkan wahyu-wahyu yang telah turun sebelumnya. Penjelasan ini dapat dibaca melalui Quran.com Surah Al-Baqarah Ayat 97.

Artinya, Al-Qur'an tidak memutus hubungan dengan sejarah wahyu. Ia justru menjadi penghubung yang menjelaskan, meluruskan, dan menyempurnakan pesan-pesan yang telah Allah sampaikan kepada umat manusia selama berabad-abad.

Karena itu, menghormati Taurat dan Injil tidak membuat seorang muslim kurang yakin terhadap Al-Qur'an. Justru keyakinan kepada Al-Qur'an menjadi lebih kuat ketika kita memahami bahwa seluruh wahyu berasal dari sumber yang sama: Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Al-Qur'an Sebagai Penyempurna, Bukan Pesaing

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah menganggap Al-Qur'an datang untuk bersaing dengan kitab-kitab sebelumnya. Padahal Al-Qur'an menggambarkan dirinya sebagai musaddiqan lima baina yadaih, yaitu membenarkan wahyu-wahyu yang telah turun sebelumnya. Penjelasan ini dapat dibaca melalui Quran.com Surah Al-Baqarah Ayat 97.

Artinya, Al-Qur'an tidak memutus hubungan dengan sejarah wahyu. Ia justru menjadi penghubung yang menjelaskan, meluruskan, dan menyempurnakan pesan-pesan yang telah Allah sampaikan kepada umat manusia selama berabad-abad.

Karena itu, menghormati Taurat dan Injil tidak membuat seorang muslim kurang yakin terhadap Al-Qur'an. Justru keyakinan kepada Al-Qur'an menjadi lebih kuat ketika kita memahami bahwa seluruh wahyu berasal dari sumber yang sama: Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Bukti Bahwa Allah Tidak Pernah Meninggalkan Manusia

Mungkin salah satu pelajaran terindah dari keimanan kepada kitab-kitab Allah adalah kesadaran bahwa Allah tidak pernah membiarkan manusia berjalan sendirian. Dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad ﷺ, Allah terus mengutus rasul dan menurunkan petunjuk.

Taurat datang kepada Nabi Musa. Injil datang kepada Nabi Isa. Dan Al-Qur'an datang kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Semuanya menunjukkan satu hal yang sama: Allah tidak pernah berhenti menyapa manusia.

Maka ketika seorang muslim mengimani Taurat, Injil, dan Al-Qur'an sekaligus, ia sedang mengakui sebuah sejarah panjang kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Sejarah tentang Tuhan yang terus mengirimkan cahaya, generasi demi generasi, agar manusia tidak kehilangan jalan pulang kepada-Nya.

Cari Blog

10 Blog Terbaru

10 Blog Terpopuler

Kategori Blog

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id