Makna QS Az-Zumar Ayat 56: Penyesalan Karena Lalai kepada Allah
Makna QS Az-Zumar Ayat 56: Penyesalan Terbesar Ternyata Bukan Karena Dosa Besar
Makna QS Az-Zumar ayat 56 mengajak kita merenungkan satu bentuk penyesalan yang sering luput dari perhatian. Banyak orang mengira penyesalan di akhirat hanya dialami oleh mereka yang melakukan dosa-dosa besar. Namun Al-Qur'an menggambarkan sesuatu yang lebih halus sekaligus lebih menggetarkan: penyesalan karena lalai, karena membiarkan waktu berlalu tanpa benar-benar menghadirkan Allah dalam kehidupan.
Allah berfirman:
"Agar jangan ada orang yang mengatakan, 'Alangkah besarnya penyesalanku atas kelalaianku terhadap Allah…'"
(QS. Az-Zumar: 56)
Ayat lengkap beserta tafsirnya dapat dipelajari melalui Quran.com:
https://quran.com/39/56
Kata yang Dipakai Bukan "Berbuat Dosa"
Salah satu detail yang menarik dalam ayat ini adalah kata yang digunakan Al-Qur'an.
Allah menggunakan kata فَرَّطْتُ (farrattu), yang bermakna aku telah lalai, aku menyia-nyiakan, aku membiarkan kesempatan itu berlalu.
Ini bukan sekadar menggambarkan seseorang yang sengaja melawan Allah.
Tetapi seseorang yang terus menunda.
Menunda taubat.
Menunda membaca Al-Qur'an.
Menunda memperbaiki diri.
Menunda melakukan kebaikan karena merasa masih ada waktu.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa tafrith adalah sikap meremehkan atau mengabaikan kewajiban hingga kesempatan itu hilang. Tafsir ayat ini dapat dibaca di:
Kesibukan Tidak Selalu Berarti Kehidupan yang Bermakna
Tidak ada orang yang bangun pagi dengan niat menyia-nyiakan hidupnya.
Sebaliknya, hampir semua orang merasa dirinya sibuk.
Jadwal penuh.
Target tercapai.
Pekerjaan selesai.
Namun Al-Qur'an mengajak kita bertanya pertanyaan yang lebih dalam:
Sibuk menuju ke mana?
Produktif untuk tujuan apa?
Kesibukan bukanlah ukuran keberhasilan jika seluruh aktivitas itu perlahan menjauhkan seseorang dari Allah.
Rasulullah ﷺ mengingatkan:
"Dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya adalah kesehatan dan waktu luang."
(HR. Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa waktu adalah amanah yang sering tidak disadari nilainya hingga ia berlalu.
Penyesalan yang Datang Terlambat
Surah Az-Zumar menggambarkan penyesalan yang muncul bukan ketika seseorang kehilangan harta atau jabatan.
Tetapi ketika ia menyadari bahwa seluruh kesempatan hidup telah berakhir.
Tidak ada lagi waktu untuk shalat yang dulu ditunda.
Tidak ada lagi kesempatan memperbaiki hubungan dengan Allah.
Tidak ada lagi hari esok.
Yang tersisa hanyalah penyesalan karena terlalu lama merasa masih punya banyak waktu.
Itulah mengapa Al-Qur'an berulang kali mengingatkan manusia agar tidak tertipu oleh kehidupan dunia yang sementara.
Muhasabah yang Seharusnya Dilakukan Hari Ini
Ayat ini bukan diturunkan agar kita hidup dalam rasa takut yang berlebihan.
Sebaliknya, ia mengajak kita melakukan muhasabah sebelum datang hari ketika penyesalan tidak lagi membawa manfaat.
Beberapa pertanyaan sederhana mungkin layak kita renungkan:
- Apakah hari ini aku masih menyediakan waktu untuk Al-Qur'an?
- Apakah shalatku sudah menjadi prioritas, atau hanya disela-sela kesibukan?
- Apakah aku sibuk membangun kehidupan, tetapi lupa mempersiapkan akhirat?
Selama pertanyaan itu masih bisa dijawab hari ini, berarti pintu perubahan masih terbuka.
Al-Qur'an Mengajarkan Hadir, Bukan Sekadar Sibuk
Islam tidak melarang seseorang bekerja keras, berkarya, atau mengejar cita-cita.
Yang diperingatkan Al-Qur'an adalah ketika seluruh energi habis untuk urusan dunia, sementara hati semakin jauh dari Allah.
Produktivitas dalam Islam bukan hanya tentang menghasilkan lebih banyak.
Tetapi tentang memastikan bahwa setiap aktivitas membawa kita semakin dekat kepada tujuan penciptaan kita.
Sebagaimana Allah berfirman:
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini menjadi kompas agar seluruh aktivitas dunia tetap berorientasi kepada Allah.
Mendekat kepada Allah di Tanah Suci
Banyak jamaah merasakan bahwa ketika berada di Makkah dan Madinah, ritme hidup berubah. Kesibukan dunia seakan melambat, sementara hubungan dengan Allah menjadi pusat perhatian.
Melalui King Salman Travel, perjalanan umroh menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, mentadabburi ayat-ayat Al-Qur'an, dan menata kembali arah hidup sebelum waktu benar-benar habis.
Makna QS Az-Zumar ayat 56 mengajarkan bahwa penyesalan terbesar bukan selalu milik orang yang paling banyak melakukan dosa.
Bisa jadi, penyesalan itu datang kepada mereka yang hidupnya dipenuhi aktivitas, tetapi kosong dari kesadaran akan Allah.
Karena pada akhirnya, yang paling menyakitkan bukanlah kegagalan.
Melainkan menyadari bahwa hidup telah berlalu...
dan terlalu banyak kesempatan yang dibiarkan pergi.
