Lupa Allah, Lalu Kehilangan Diri
Kehilangan Diri yang Tidak Terlihat
Ada kehilangan yang tidak membuat siapa pun datang melayat.
Tidak ada kabar duka. Tidak ada benda yang hilang. Tidak ada perubahan besar yang bisa langsung dilihat orang lain.
Namun perlahan, seseorang bisa kehilangan dirinya sendiri.
Ia masih bekerja seperti biasa. Masih bertemu teman. Masih tertawa. Masih mengunggah foto. Bahkan dari luar, hidupnya mungkin terlihat baik-baik saja.
Tetapi di dalam dirinya, ada sesuatu yang perlahan menjauh.
Ia tidak lagi tahu apa yang sebenarnya ia cari. Tidak lagi mengerti mengapa semua pencapaian terasa cepat hambar. Tidak lagi memiliki waktu untuk berhenti dan bertanya apakah hidupnya masih berjalan ke arah yang benar.
Al-Qur'an menggambarkan kondisi yang sangat dalam ini dalam QS. Al-Hasyr ayat 19:
"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Dia menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik."
Ayat tersebut secara langsung menghubungkan melupakan Allah dengan melupakan diri sendiri.

Ketika Hidup Terlihat Baik-Baik Saja
Di zaman sekarang, seseorang bisa terlihat sangat sibuk tanpa pernah merasa sedang kehilangan arah. Pagi dimulai dengan pekerjaan, siang dipenuhi target, sore habis di perjalanan, sementara malam dihabiskan dengan berbagai aktivitas di media sosial. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, hingga seseorang tiba-tiba menyadari bahwa dirinya sudah sangat jauh dari kehidupan yang dulu ingin ia jalani.
Masalahnya bukan karena bekerja, memiliki cita-cita, mendapatkan uang, atau menikmati kehidupan dunia. Semua itu bukan sesuatu yang otomatis salah. Yang perlu diperhatikan adalah ketika semua hal tersebut perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik Allah.
Seseorang bisa mengetahui bahwa Allah ada, tetapi dalam mengambil keputusan ia tidak lagi mempertimbangkan apa yang Allah sukai. Ia bisa mengaku beriman, tetapi seluruh ukuran keberhasilannya hanya berdasarkan uang, jabatan, penampilan, popularitas, atau penilaian manusia.
Pada titik itu, manusia mungkin masih menjalani hidup, tetapi mulai kehilangan orientasi tentang siapa dirinya dan untuk apa ia diciptakan.
Apa Arti "Melupakan Allah"?
Melupakan Allah tentu bukan hanya tentang tidak menyebut nama-Nya. Persoalannya jauh lebih dalam. Seseorang bisa saja masih mengucapkan dzikir dan tetap menjalankan ritual keagamaan, tetapi hatinya semakin jauh dari kesadaran bahwa hidup ini memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar mengejar dunia.
Ketika Allah tidak lagi menjadi pusat orientasi, manusia mudah menjadikan dunia sebagai sumber utama kebahagiaan sekaligus sumber utama kehancuran dirinya. Ketika dipuji, ia merasa berharga. Ketika dibandingkan, ia merasa rendah. Ketika mendapatkan sesuatu, ia merasa berhasil. Ketika kehilangan sesuatu, ia merasa hidupnya selesai.
Padahal semua yang ada di dunia terus berubah.
Pekerjaan bisa berubah. Uang bisa habis. Penampilan berubah. Orang-orang datang dan pergi. Status sosial bisa naik dan turun. Bahkan sesuatu yang hari ini kita anggap sangat penting mungkin beberapa tahun kemudian sudah tidak berarti apa-apa.
Karena itu, ketika harga diri sepenuhnya dibangun di atas sesuatu yang berubah, hati akan terus mengalami naik turun.
Al-Qur'an memberikan arah yang berbeda. Allah mengingatkan bahwa hati menjadi tenteram dengan mengingat-Nya dalam QS. Ar-Ra'd ayat 28. Ayat tersebut dapat dibaca melalui Qur'an Kemenag.
Kehilangan Diri Tidak Selalu Terlihat seperti Kehancuran
Hal yang menarik adalah seseorang yang kehilangan dirinya sendiri tidak selalu terlihat sedang mengalami masalah. Ia mungkin justru terlihat sebagai orang yang sangat sukses.
Ia memiliki pekerjaan yang baik, kehidupan sosial yang ramai, banyak pengalaman, bahkan memiliki segala sesuatu yang selama ini diinginkan. Namun di dalam dirinya masih ada ruang kosong yang tidak bisa diisi oleh pencapaian.
Mengapa?
Karena pencapaian dan makna adalah dua hal yang berbeda.
Seseorang bisa mendapatkan apa yang ia inginkan tanpa pernah menemukan alasan mengapa ia menginginkannya. Ia bisa mencapai tujuan yang selama bertahun-tahun dikejar, tetapi setelah sampai di sana justru bertanya, "Lalu sekarang apa?"
Di sinilah seseorang perlu berhenti dan melakukan muhasabah. Bukan untuk membenci kehidupan dunia, tetapi untuk memastikan bahwa dunia tidak membuatnya lupa kepada tujuan akhir.
Mengapa Mengingat Allah Membantu Kita Mengenali Diri?
Ketika seseorang kembali mengingat Allah, ia kembali diingatkan tentang siapa dirinya.
Ia adalah hamba, bukan penguasa mutlak atas hidupnya. Ia memiliki kewajiban, tetapi juga memiliki keterbatasan. Ia boleh memiliki rencana, tetapi tidak menguasai hasil akhirnya. Ia boleh mengejar dunia, tetapi dunia bukan tujuan akhirnya.
Kesadaran tersebut membuat seseorang lebih mampu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.
Kegagalan tidak lagi otomatis berarti dirinya tidak berharga. Kesuksesan tidak membuatnya merasa lebih tinggi dari orang lain. Kehilangan tidak selalu dianggap sebagai akhir kehidupan. Dan pujian manusia tidak lagi menjadi satu-satunya sumber rasa percaya diri.
Inilah salah satu makna penting dari kembali kepada Allah: kita tidak hanya kembali kepada Tuhan, tetapi juga kembali memahami siapa diri kita.
Jalan untuk Kembali Tidak Harus Dimulai dengan Hal Besar
Ketika menyadari bahwa hubungan dengan Allah mulai jauh, seseorang terkadang merasa harus mengubah seluruh hidupnya sekaligus. Padahal jalan kembali bisa dimulai dari hal-hal sederhana.
Mulailah dengan memperbaiki shalat. Luangkan waktu membaca Al-Qur'an meskipun hanya beberapa ayat. Perbanyak istighfar ketika hati mulai gelisah. Kurangi waktu yang membuat pikiran semakin penuh dengan perbandingan. Dan sesekali berhenti dari kesibukan untuk benar-benar bertanya kepada diri sendiri apakah kehidupan yang sedang dijalani masih berada di jalan yang benar.
Allah tidak meminta manusia menjadi sempurna sebelum kembali kepada-Nya. Justru manusia diperintahkan untuk terus kembali ketika menyadari kesalahan.
Karena itu, jangan menunggu Ramadan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah. Jangan menunggu sakit untuk mulai berdoa. Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari nikmat. Dan jangan menunggu usia tua untuk mulai bertanya ke mana sebenarnya kehidupan ini sedang berjalan.
Mungkin yang Perlu Diubah Bukan Hidupmu, tetapi Pusatnya
Ada orang yang merasa harus meninggalkan semuanya agar bisa menemukan ketenangan. Padahal tidak selalu demikian. Kita tetap bisa bekerja, membangun bisnis, mengejar pendidikan, membangun keluarga, bepergian, menikmati makanan, dan memiliki cita-cita.
Yang perlu diperbaiki adalah pusatnya.
Dunia tetap berada di tangan, tetapi jangan sampai masuk terlalu dalam ke hati. Kita menggunakan harta, tetapi jangan sampai harta menentukan harga diri. Kita bekerja untuk kehidupan, tetapi jangan sampai pekerjaan membuat kita lupa kepada kehidupan setelah kematian.
Ketika posisi sesuatu tepat, kehidupan menjadi lebih seimbang.
Dan mungkin inilah yang ingin kita pahami dari makna QS Al-Hasyr ayat 19. Melupakan Allah bukan sekadar kehilangan kebiasaan beribadah. Ia dapat membawa manusia pada kondisi ketika ia tidak lagi memahami apa yang benar-benar penting bagi dirinya.
Saatnya Berhenti Sebentar
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk menjadi seseorang sampai lupa bertanya siapa diri kita sebenarnya.
Kita sibuk mengejar pengakuan, tetapi lupa mencari keridaan. Sibuk mengumpulkan sesuatu yang akan ditinggalkan, tetapi lupa mempersiapkan sesuatu yang akan dibawa. Sibuk memperbaiki bagaimana kita terlihat di depan manusia, tetapi lupa memperbaiki bagaimana keadaan kita di hadapan Allah.
Kalau akhir-akhir ini hidup terasa kosong meskipun semuanya terlihat baik-baik saja, mungkin kita tidak selalu membutuhkan sesuatu yang baru.
Mungkin kita hanya perlu kembali.
Kembali kepada shalat yang dulu terasa menenangkan. Kembali membuka Al-Qur'an yang lama dibiarkan. Kembali berdoa tanpa terburu-buru. Kembali mengingat bahwa kita bukan hanya manusia yang sedang mengejar kehidupan dunia, tetapi seorang hamba yang suatu hari akan kembali kepada Penciptanya.
Perjalanan ke Tanah Suci juga dapat menjadi salah satu momentum untuk mengambil jarak dari rutinitas dan melakukan muhasabah. Umroh bukan hanya perjalanan fisik menuju Makkah dan Madinah, tetapi bagi banyak jamaah menjadi kesempatan untuk menata kembali hubungan dengan Allah dan mengevaluasi arah kehidupan. Bagi yang sedang mempersiapkan perjalanan ibadah, informasi mengenai program dan pendampingan dapat dilihat melalui King Salman Travel.
Pada akhirnya, kehilangan diri sendiri mungkin tidak selalu terasa seperti kehilangan. Kadang ia terasa seperti kesibukan. Kadang terasa seperti ambisi. Kadang bahkan terlihat seperti kesuksesan.
Itulah mengapa peringatan Al-Qur'an ini begitu dalam.
"Janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Dia menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri."
Sebab bisa jadi, selama ini yang kita cari ke mana-mana bukan kehidupan yang baru.
Kita hanya sedang berusaha menemukan kembali diri kita yang terlalu lama jauh dari Allah.
