Maulid Nabi: Kenapa Ulama Berbeda Pendapat?

Kategori : Tips, Ditulis pada : 26 Agustus 2026, 08:45:51

Maulid Nabi dan Perbedaan Pendapat Ulama

Pembahasan mengenai hukum Maulid Nabi bukanlah perkara yang memiliki satu suara di kalangan ulama. Sebagian ulama memandang peringatan Maulid sebagai sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah ﷺ, para sahabat, maupun generasi Salaf, sehingga tidak perlu dijadikan bagian dari ritual keagamaan. Di sisi lain, sejumlah ulama membolehkan bentuk peringatan tertentu selama diisi dengan kegiatan yang dibenarkan syariat, seperti membaca sirah, bershalawat, bersedekah, dan mengingat perjuangan Rasulullah ﷺ.

Perbedaan ini penting dipahami secara proporsional. Perbedaan hukum mengenai cara memperingati kelahiran Nabi ﷺ tidak berarti para ulama berbeda dalam kecintaan kepada beliau. Justru, pembahasan tersebut lahir dari upaya masing-masing ulama memahami bagaimana kecintaan kepada Rasulullah ﷺ seharusnya diwujudkan. Pembahasan mengenai sejarah dan keteladanan Rasulullah juga dapat diperdalam melalui sumber resmi Kementerian Agama RI.

665524eb-90ed-4c9b-a053-ce0b52cde02f.jpg

Pendapat yang Tidak Membolehkan Peringatan Maulid

Salah satu argumen yang digunakan oleh ulama yang tidak membolehkan peringatan Maulid adalah bahwa praktik tersebut tidak dikenal pada masa Rasulullah ﷺ, para sahabat, dan generasi awal Islam. Mereka memandang bahwa urusan ibadah membutuhkan dalil dan tidak semestinya menambahkan bentuk ritual baru yang tidak pernah dicontohkan.

Pendapat ini sering dikaitkan dengan pemahaman terhadap QS. Al-Ma'idah ayat 3 tentang kesempurnaan agama. Ayat tersebut berbunyi, "Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu...".

Dari perspektif ini, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ tidak perlu diwujudkan melalui sebuah perayaan khusus yang tidak pernah dilakukan oleh generasi pertama umat Islam. Bentuk kecintaan yang dianggap lebih jelas adalah mengikuti sunnah, memperbanyak shalawat, mempelajari sirah, serta menjalankan ajaran beliau dalam kehidupan sehari-hari. Teks Al-Qur'an dapat dirujuk melalui Qur'an Kemenag.

Ada Ulama yang Membolehkan dengan Syarat

Di sisi lain, terdapat ulama yang membolehkan peringatan Maulid dengan pertimbangan bahwa bentuk kegiatannya dapat menjadi sarana untuk mengingat nikmat kelahiran Rasulullah ﷺ dan meningkatkan kecintaan kepada beliau.

Imam Jalaluddin As-Suyuthi termasuk ulama yang membahas persoalan Maulid dan memberikan ruang bagi bentuk peringatan yang diisi dengan amal-amal kebaikan. Dalam pendekatan ini, yang menjadi perhatian bukan sekadar nama acaranya, melainkan apa yang dilakukan di dalamnya.

Jika sebuah kegiatan diisi dengan membaca Al-Qur'an, bershalawat, mempelajari sirah Nabi ﷺ, bersedekah, dan memberikan nasihat agama, sebagian ulama memandang kegiatan tersebut memiliki nilai kebaikan selama tidak disertai hal-hal yang bertentangan dengan syariat.

Bagaimana dengan Ibnu Taimiyah?

Nama Ibnu Taimiyah juga sering muncul dalam pembahasan mengenai Maulid. Pandangannya tidak sesederhana klaim bahwa beliau sepenuhnya membolehkan atau sepenuhnya menyamakan Maulid dengan sunnah Nabi ﷺ.

Dalam pembahasannya, Ibnu Taimiyah mengkritik menjadikan Maulid sebagai perayaan keagamaan yang dianggap memiliki keutamaan khusus tanpa dasar dari generasi awal. Namun ia juga menyebut bahwa seseorang yang melakukannya karena kecintaan kepada Rasulullah ﷺ dan dengan tujuan mendapatkan kebaikan dapat memperoleh pahala atas niatnya.

Di sinilah pentingnya membaca pendapat ulama secara utuh. Sebuah pernyataan yang dipotong menjadi satu kalimat dapat membuat posisi seorang ulama terlihat jauh lebih sederhana daripada pembahasan aslinya.

Perbedaan Pendapat Tidak Harus Menjadi Pertengkaran

Perbedaan mengenai Maulid sering kali berubah menjadi perdebatan panjang di tengah masyarakat. Padahal, ada satu prinsip penting yang seharusnya tetap dijaga: perbedaan pendapat dalam persoalan fikih tidak otomatis membuat seseorang kehilangan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.

Umat Islam dapat berbeda dalam menilai sebuah bentuk amalan, tetapi tetap sepakat bahwa Rasulullah ﷺ adalah manusia pilihan Allah dan teladan utama bagi umat Islam.

Allah berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 21 bahwa pada diri Rasulullah ﷺ terdapat uswah hasanah, yaitu teladan yang baik bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah dan hari akhir.

Karena itu, ketika pembahasan Maulid muncul, fokus seharusnya tidak berhenti pada perdebatan "merayakan atau tidak merayakan". Pertanyaan yang lebih penting adalah: seberapa jauh kita mengenal kehidupan Rasulullah ﷺ dan mengikuti teladannya?

Kelahiran Rasulullah ﷺ Mengubah Sejarah

Terlepas dari perbedaan pendapat mengenai bentuk peringatan Maulid, satu fakta sejarah tidak dapat disangkal: kelahiran Muhammad bin Abdullah ﷺ menjadi bagian dari salah satu perubahan terbesar dalam sejarah manusia.

Beliau lahir di Makkah dalam masyarakat yang memiliki berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan keagamaan. Beberapa dekade kemudian, risalah yang beliau bawa telah mengubah kehidupan masyarakat Arab dan kemudian menyebar jauh melampaui Jazirah Arab.

Namun kebesaran Rasulullah ﷺ tidak hanya terlihat dari luasnya pengaruh sejarahnya. Ia juga terlihat dari bagaimana beliau memperlakukan manusia: penuh kasih kepada orang lemah, menjaga amanah, memaafkan, berlaku adil, dan tetap rendah hati meskipun memiliki kedudukan yang sangat tinggi.

Cara Mencintai Rasulullah ﷺ

Jika seseorang memilih memperingati Maulid, hendaknya kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk semakin mengenal Rasulullah ﷺ, bukan sekadar acara seremonial. Begitu pula bagi seseorang yang tidak memperingatinya, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ tetap dapat diwujudkan dengan mempelajari sirah, memperbanyak shalawat, menjalankan sunnah, dan meneladani akhlaknya.

Dengan demikian, perbedaan pendapat tidak harus membuat umat saling merendahkan.

Sebab mencintai Rasulullah ﷺ bukan hanya tentang bagaimana kita memperingati kelahirannya. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kehidupan kita berubah setelah mengenal kehidupan beliau.

Bagi yang ingin mempelajari perjalanan hidup Rasulullah ﷺ secara lebih mendalam, materi seperti Born to be Hero dapat menjadi salah satu sarana untuk mengenal sirah, perjuangan, dan keteladanan beliau secara lebih utuh.

Pada akhirnya, Maulid boleh menjadi ruang untuk mengingat kelahiran Rasulullah ﷺ bagi mereka yang meyakininya sebagai bentuk kebaikan. Bagi yang memilih tidak memperingatinya, kecintaan kepada Nabi ﷺ tetap memiliki jalan yang sangat luas.

Karena ukuran cinta bukan hanya seberapa sering kita membicarakan Rasulullah ﷺ, tetapi seberapa nyata sunnah dan akhlaknya hidup dalam diri kita.

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id