Ihram Bukan Sekadar Pakaian: Ini Makna di Balik Awal Umroh
MAKKAH — Bagi sebagian orang, ihram identik dengan dua lembar kain putih yang dikenakan jamaah laki-laki sebelum menjalankan umroh. Padahal, dalam ibadah umroh, ihram memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar pakaian.
Ihram merupakan keadaan suci dan dimulainya pelaksanaan manasik dengan niat umroh. Sejak memasuki keadaan ihram, jamaah memiliki sejumlah aturan dan larangan yang harus dijaga hingga menyelesaikan rangkaian ibadah.

Apa Sebenarnya yang Dimaksud dengan Ihram?
Secara sederhana, ihram bukanlah nama pakaian.
Pakaian putih yang dikenakan laki-laki disebut pakaian ihram, sedangkan ihram adalah keadaan ketika seseorang telah berniat memasuki ibadah haji atau umroh dan terikat dengan ketentuan-ketentuan ihram.
Karena itu, seseorang belum disebut berada dalam ihram hanya karena mengenakan kain putih.
Niat menjadi bagian penting dalam memulai ibadah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya."
Hadis tentang niat dapat dibaca melalui Sahih al-Bukhari.
Kapan Jamaah Mulai Ihram?
Jamaah memulai ihram ketika melewati miqat, yaitu tempat atau batas yang telah ditentukan untuk memulai ihram bagi orang yang hendak melaksanakan haji atau umroh.
Miqat berbeda-beda tergantung dari arah kedatangan jamaah.
Karena itu, jamaah perlu mengetahui rute perjalanan sejak sebelum berangkat agar tidak melewati miqat tanpa ihram.
Untuk jamaah yang menggunakan pesawat, biasanya pembimbing akan mengingatkan jamaah untuk bersiap sebelum pesawat melewati miqat.
Apa yang Dilakukan Sebelum Ihram?
Sebelum memasuki keadaan ihram, jamaah dianjurkan mempersiapkan diri.
Di antaranya mandi, membersihkan diri, menggunakan wewangian sebelum niat bagi laki-laki, dan mengenakan pakaian ihram.
Setelah itu, jamaah berniat umroh dan mulai mengucapkan talbiyah.
Talbiyah menjadi salah satu suara yang sangat identik dengan perjalanan menuju Tanah Suci:
Labbaik Allahumma labbaik.
"Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah. Aku memenuhi panggilan-Mu."
Bacaan dan tuntunan talbiyah dapat dipelajari melalui Sunnah.com.
Mengapa Laki-Laki Memakai Dua Lembar Kain?
Pakaian ihram laki-laki terdiri dari dua lembar kain yang tidak dijahit dengan bentuk pakaian biasa.
Sementara perempuan tetap mengenakan pakaian yang menutup aurat sesuai ketentuan syariat dan tidak memiliki ketentuan harus menggunakan dua lembar kain seperti laki-laki.
Kesederhanaan pakaian ihram memberikan pesan yang sangat kuat.
Ketika seseorang masuk ke dalam keadaan ihram, atribut duniawi yang biasanya melekat pada dirinya menjadi tidak lagi menjadi pembeda utama.
Seorang pejabat dan pekerja.
Seorang pengusaha dan buruh.
Orang kaya dan orang sederhana.
Semuanya berdiri sebagai hamba Allah.
Ihram Mengajarkan Kesetaraan
Pemandangan jamaah dalam pakaian ihram menjadi salah satu simbol persamaan manusia di hadapan Allah.
Tidak ada jas mahal.
Tidak ada pakaian bermerek.
Tidak ada seragam jabatan.
Yang ada hanyalah seorang hamba yang datang memenuhi panggilan Allah.
Allah berfirman:
"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa."
(QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat tersebut dapat dibaca melalui Quran.com.
Artinya, ukuran kemuliaan manusia bukanlah apa yang ia miliki, melainkan ketakwaannya.
Ada Larangan Selama Ihram
Setelah berniat ihram, jamaah harus memperhatikan sejumlah larangan.
Untuk laki-laki, di antaranya tidak boleh mengenakan pakaian yang berbentuk seperti pakaian biasa yang membungkus anggota tubuh sesuai ketentuan ihram, tidak menutup kepala dengan sesuatu yang melekat, serta menjaga diri dari larangan lainnya.
Jamaah juga dilarang memotong rambut dan kuku, berburu hewan darat tertentu, serta melakukan hubungan suami istri dan hal-hal yang berkaitan dengannya selama dalam keadaan ihram.
Karena detail larangan ihram memiliki pembahasan fikih yang cukup luas, jamaah sebaiknya mempelajarinya melalui pembimbing manasik sebelum keberangkatan.
Mengapa Banyak Larangan Saat Ihram?
Larangan ihram mengajarkan satu hal penting: ketika sudah berniat beribadah, kita belajar mengendalikan diri.
Bukan hanya ibadah ritual yang diperhatikan.
Emosi juga harus dijaga.
Ucapan harus dijaga.
Perilaku terhadap orang lain harus dijaga.
Allah bahkan mengingatkan dalam Al-Qur'an:
"Maka jangan ada rafats, fusuq dan jidal dalam haji."
(QS. Al-Baqarah: 197)
Ayat tersebut dapat dipelajari melalui Quran.com.
Walaupun ayat tersebut berbicara mengenai haji, prinsip menjaga ucapan dan perilaku dalam perjalanan ibadah merupakan pelajaran penting bagi setiap jamaah.
Ihram Mengubah Cara Kita Melihat Perjalanan
Sebelum ihram, perjalanan mungkin terasa seperti perjalanan biasa.
Ada jadwal penerbangan.
Ada hotel.
Ada koper.
Ada bus.
Namun setelah niat ihram diucapkan, perjalanan berubah menjadi ibadah.
Setiap langkah menuju Masjidil Haram menjadi bagian dari perjalanan menuju Allah.
Inilah mengapa persiapan mental sama pentingnya dengan persiapan koper.
Persiapkan Ihram Sebelum Berangkat
Jamaah sebaiknya tidak baru mempelajari ihram ketika sudah berada di bandara.
Pahami terlebih dahulu kapan harus berniat, bagaimana menggunakan pakaian ihram, apa saja larangannya, dan apa yang harus dilakukan jika terjadi kondisi tertentu.
King Salman Travel memberikan bimbingan manasik kepada jamaah agar setiap tahapan perjalanan dapat dipahami sebelum keberangkatan.
Jamaah juga dapat membaca panduan persiapan umroh dan tata cara manasik umroh sebagai bekal tambahan.
Ihram bukan sekadar kain putih.
Ia adalah keadaan ketika seorang manusia meninggalkan sejenak berbagai identitas duniawinya dan datang menghadap Allah sebagai seorang hamba.
Putihnya pakaian mungkin hanya terlihat dari luar.
Tetapi yang jauh lebih penting adalah apa yang berubah di dalam diri setelah mengenakannya.
Karena perjalanan menuju Baitullah seharusnya bukan hanya mengubah tempat kita berada.
Tetapi juga mengubah siapa diri kita setelah kembali.
