Kenapa Waktu di Tanah Suci Terasa Cepat?
MAKKAH — Ada satu hal yang hampir selalu dirasakan jamaah setelah beberapa hari berada di Tanah Suci:
"Kok sudah mau pulang?"
Rasanya baru kemarin turun dari pesawat.
Baru kemarin melihat Ka'bah untuk pertama kali.
Baru kemarin menangis ketika melakukan tawaf.
Tiba-tiba koper sudah harus dikemas kembali.
Waktu di Tanah Suci memang sering terasa berbeda. Bukan karena waktu berjalan lebih cepat, tetapi karena begitu banyak pengalaman dan ibadah yang membuat hari-hari terasa penuh.
![]()
Baru Sampai, Sudah Harus Pulang
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah jamaah menganggap waktu umroh masih panjang.
"Besok saja ke Masjidil Haram."
"Besok saja banyak baca Al-Qur'an."
"Nanti malam saja tahajud."
Kemudian tanpa terasa, beberapa hari sudah berlalu.
Inilah mengapa waktu di Tanah Suci sebaiknya diperlakukan sebagai kesempatan yang terbatas.
Kita tidak tahu kapan Allah akan kembali mengizinkan kita datang.
Informasi mengenai perjalanan dan destinasi resmi di Arab Saudi dapat dipelajari melalui Visit Saudi.
Bukan Karena Kekurangan Waktu, Tapi Karena Salah Menggunakannya
Bayangkan seorang jamaah memiliki waktu tujuh hari di Makkah.
Secara teori, tujuh hari terdengar cukup lama.
Tetapi dalam praktiknya ada waktu untuk:
- Istirahat.
- Makan.
- Mandi.
- Perjalanan.
- Menunggu.
- Tidur.
- Persiapan ibadah.
- Aktivitas rombongan.
Jika tidak diatur dengan baik, tujuh hari bisa terasa seperti hanya dua atau tiga hari.
Karena itu, memaksimalkan umroh bukan berarti harus beribadah tanpa berhenti.
Justru yang penting adalah mengatur energi dan prioritas.
Jangan Jadikan Setiap Hari Penuh dengan Agenda
Ini mungkin terdengar bertentangan.
Tetapi jamaah tidak harus membuat jadwal super padat setiap hari.
Umroh bukan perjalanan wisata yang harus mengejar sebanyak mungkin destinasi.
Tubuh membutuhkan istirahat.
Jika terlalu memaksakan diri hari ini, bisa jadi besok justru tidak mampu beribadah dengan maksimal.
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan pentingnya keseimbangan dalam ibadah dan kemampuan manusia.
Pembahasan tentang berbagai hadis dapat ditelusuri melalui Sunnah.com.
Buat "Prioritas Ibadah"
Daripada membuat daftar aktivitas yang terlalu panjang, lebih baik tentukan beberapa prioritas.
Misalnya:
Prioritas pertama: menjaga shalat wajib.
Prioritas kedua: memperbanyak doa.
Prioritas ketiga: membaca Al-Qur'an.
Prioritas keempat: memperbanyak dzikir dan salawat.
Prioritas kelima: mengikuti rangkaian ibadah dan kegiatan yang sudah dijadwalkan.
Dengan begitu, ketika ada waktu kosong, jamaah sudah tahu harus melakukan apa.
Jangan Sampai Ponsel Menghabiskan Waktu di Tanah Suci
Ini salah satu tantangan zaman sekarang.
Kita pergi ribuan kilometer untuk melihat Ka'bah.
Tetapi ketika sudah sampai, tangan justru terus memegang ponsel.
Foto.
Video.
Edit.
Upload.
Balas komentar.
Cek WhatsApp.
Scroll TikTok.
Lalu tanpa sadar, satu jam berlalu.
Padahal satu jam di Masjidil Haram mungkin merupakan salah satu waktu paling berharga yang kita miliki.
Bukan berarti tidak boleh mendokumentasikan perjalanan.
Tentu boleh.
Tetapi jangan sampai mendokumentasikan ibadah lebih banyak daripada menjalankannya.
Ada Waktu yang Tidak Bisa Diulang
Bayangkan ketika sudah pulang ke Indonesia.
Anda kembali bekerja.
Kembali menghadapi kemacetan.
Kembali dengan rutinitas.
Kemudian suatu malam, Anda membuka galeri ponsel.
Muncul foto Ka'bah.
Foto Masjid Nabawi.
Foto jalanan Makkah.
Lalu muncul satu pikiran:
"Andai waktu itu aku lebih banyak berdoa."
Penyesalan seperti ini mungkin lebih berat daripada rasa lelah saat berada di Tanah Suci.
Karena kesempatan tersebut tidak selalu datang dua kali.
Manfaatkan Waktu Menunggu
Menunggu bus?
Dzikir.
Menunggu makanan?
Baca Al-Qur'an.
Menunggu waktu shalat?
Berdoa.
Menunggu rombongan?
Bersalawat.
Inilah salah satu cara sederhana membuat waktu-waktu kecil menjadi bernilai.
Kita tidak harus menunggu berada di depan Ka'bah untuk beribadah.
Bahkan beberapa menit yang biasanya dianggap "waktu kosong" bisa menjadi kesempatan untuk mendekat kepada Allah.
Allah berfirman:
"Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu."
(QS. Al-Baqarah: 152)
Ayat tersebut dapat dibaca melalui Quran.com.
Jangan Membandingkan Perjalananmu dengan Jamaah Lain
Ada jamaah yang bisa pergi ke Masjidil Haram berkali-kali sehari.
Ada yang hanya mampu sekali karena kondisi fisik.
Ada yang kuat berjalan jauh.
Ada yang membutuhkan kursi roda.
Ada yang bisa melakukan banyak ibadah sunnah.
Ada yang harus lebih banyak beristirahat.
Tidak perlu merasa ibadah kita kalah hanya karena tidak melakukan sebanyak orang lain.
Allah mengetahui kemampuan setiap hamba.
Yang penting adalah melakukan yang terbaik sesuai kemampuan.
Perjalanan Umroh yang Teratur Membantu Menghemat Energi
Di sinilah perencanaan perjalanan menjadi penting.
Itinerary yang terlalu padat bisa membuat jamaah kelelahan.
Sebaliknya, jadwal yang terlalu longgar juga bisa membuat waktu tidak dimanfaatkan secara optimal.
Travel yang berpengalaman perlu memperhitungkan waktu perjalanan, waktu ibadah, istirahat, makan, dan kondisi jamaah.
King Salman Travel berusaha memberikan pendampingan dan pengaturan perjalanan agar jamaah dapat menjalani rangkaian program dengan lebih nyaman dan terarah.
Informasi program umroh dapat dilihat melalui King Salman Travel.
Jamaah juga dapat membaca persiapan sebelum umroh agar lebih siap sebelum berangkat.
Buat Target yang Sederhana
Tidak perlu membuat target yang terlalu banyak.
Misalnya selama berada di Makkah:
"Saya ingin menjaga shalat lima waktu, membaca Al-Qur'an setiap hari, dan memperbanyak doa."
Selama berada di Madinah:
"Saya ingin memperbanyak salawat, shalat di Masjid Nabawi, dan mempelajari sirah Rasulullah ﷺ."
Target sederhana seperti ini justru lebih mudah dijalankan.
Karena Kita Tidak Tahu Kapan Akan Kembali
Ini mungkin bagian paling penting.
Tidak ada yang bisa memastikan bahwa seseorang akan kembali ke Makkah tahun depan.
Tidak ada yang tahu apakah kesempatan berikutnya akan datang.
Maka ketika Allah memberikan kesempatan hari ini, jangan terlalu sibuk memikirkan perjalanan berikutnya.
Nikmati ibadah yang sedang dijalani.
Tatap Ka'bah lebih lama.
Berdoalah untuk orang tua.
Minta ampun.
Minta petunjuk.
Minta agar keluarga dijaga.
Dan minta satu hal yang mungkin paling sederhana:
"Ya Allah, jangan jadikan perjalanan ini hanya perjalanan yang mengubah tempatku, tapi jadikan ia perjalanan yang mengubah hidupku."
