Kenapa Umroh Disebut Memenuhi Panggilan Allah?
MAKKAH — Ada kalimat yang hampir selalu terdengar ketika seseorang berangkat umroh: "Alhamdulillah, akhirnya bisa memenuhi panggilan Allah."
Ungkapan tersebut bukan sekadar kata-kata.
Bagi banyak umat Islam, perjalanan menuju Makkah memang terasa seperti sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya dijelaskan dengan logika.
Ada orang yang sudah lama memiliki uang tetapi belum berangkat.
Ada yang sehat dan memiliki waktu tetapi belum mendapat kesempatan.
Ada pula yang tidak pernah menyangka akan sampai ke Tanah Suci, tetapi suatu hari justru berdiri di depan Ka'bah.

Mengapa Disebut Panggilan Allah?
Secara syariat, umroh merupakan ibadah yang memiliki tata cara dan ketentuan tertentu.
Namun secara spiritual, banyak muslim memaknai kesempatan berangkat ke Tanah Suci sebagai nikmat dan pertolongan dari Allah.
Ketika jamaah mulai mengucapkan:
Labbaik Allahumma labbaik...
kalimat tersebut terasa seperti jawaban terhadap panggilan untuk beribadah.
Talbiyah sendiri memiliki makna memenuhi panggilan Allah. Bacaan talbiyah dapat dipelajari melalui Sahih al-Bukhari.
Tidak Semua yang Ingin Bisa Langsung Berangkat
Ini salah satu kenyataan yang sering terlupakan.
Banyak orang ingin umroh.
Tetapi keinginan saja belum tentu membuat seseorang langsung sampai ke Makkah.
Ada faktor ekonomi.
Ada kesehatan.
Ada pekerjaan.
Ada keluarga.
Ada dokumen.
Ada berbagai keadaan yang tidak selalu berada di bawah kendali manusia.
Karena itu, ketika kesempatan akhirnya datang, rasa syukur menjadi sangat penting.
Umroh Bukan Perlombaan
Di era media sosial, perjalanan umroh terkadang terlihat seperti sesuatu yang mudah.
Setiap hari kita melihat orang berfoto di depan Ka'bah.
Ada yang berangkat bersama pasangan.
Ada yang bersama orang tua.
Ada yang bersama anak-anak.
Tanpa sadar, kita bisa membandingkan hidup sendiri dengan kehidupan orang lain.
Padahal setiap orang memiliki waktunya masing-masing.
Jika belum berangkat, bukan berarti Allah melupakan kita.
Bisa jadi waktunya belum tiba.
Menunggu Juga Bisa Menjadi Ibadah
Selama menunggu kesempatan umroh, seseorang tetap dapat mendekatkan diri kepada Allah.
Menabung adalah ikhtiar.
Belajar manasik adalah ikhtiar.
Menjaga kesehatan adalah ikhtiar.
Berdoa adalah ibadah.
Memperbaiki hubungan dengan orang tua adalah ibadah.
Tidak ada satu pun proses menuju Tanah Suci yang sia-sia jika dilakukan karena Allah.
Ketika Akhirnya Sampai di Makkah
Ada jamaah yang menangis ketika melihat Ka'bah.
Ada yang hanya terdiam.
Ada yang tidak mampu berkata-kata.
Ada pula yang merasa biasa saja pada awalnya, lalu emosinya muncul beberapa jam atau hari kemudian.
Tidak ada reaksi yang harus dipaksakan.
Yang penting adalah bersyukur.
Karena kita sedang berada di tempat yang selama ini hanya kita lihat melalui gambar dan video.
Jangan Sampai Pulang Hanya Membawa Foto
Inilah bagian terpenting.
Umroh seharusnya tidak berhenti ketika pesawat mendarat di Indonesia.
Jika sebelumnya kita sering menunda shalat, semoga setelah umroh menjadi lebih disiplin.
Jika sebelumnya mudah marah, semoga menjadi lebih sabar.
Jika sebelumnya jauh dari Al-Qur'an, semoga mulai kembali membacanya.
Jika sebelumnya terlalu sibuk mengejar dunia, semoga kembali mengingat akhirat.
Allah berfirman:
"Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar."
(QS. Al-Ankabut: 45)
Ayat tersebut dapat dibaca melalui Quran.com.
Perjalanan Umroh Dimulai Sebelum Pesawat Berangkat
Persiapan umroh bukan hanya soal koper dan pakaian.
Jamaah juga perlu mempersiapkan ilmu, fisik, mental, dan niat.
Memahami ihram, miqat, tawaf, sa'i, tahallul, serta adab selama di Tanah Suci akan membuat perjalanan lebih tenang.
King Salman Travel mendampingi jamaah melalui pembekalan dan pendampingan selama perjalanan agar jamaah dapat lebih fokus menjalankan ibadah.
Informasi mengenai program perjalanan dapat dipelajari melalui King Salman Travel.
Bagaimana Jika Belum Mendapat Kesempatan?
Jika saat ini kita masih menunggu, jangan berhenti berdoa.
Tidak perlu merasa rendah diri ketika melihat orang lain sudah sampai di Tanah Suci.
Doakan mereka.
Dan terus berusaha.
Mungkin hari ini kita hanya bisa melihat Ka'bah dari layar.
Mungkin hari ini kita hanya bisa menabung sedikit demi sedikit.
Tetapi siapa yang tahu apa yang Allah siapkan beberapa bulan atau beberapa tahun ke depan?
Umroh bukan tentang siapa yang paling cepat sampai ke Makkah.
Bukan pula tentang siapa yang paling sering berangkat.
Setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda.
Ada yang dipanggil ketika masih muda.
Ada yang menunggu puluhan tahun.
Ada yang berangkat bersama orang tua.
Ada yang baru bisa berangkat setelah orang tuanya tiada.
Maka ketika akhirnya kaki kita diizinkan menginjak Tanah Suci, jangan lupa satu hal:
Yang paling layak disyukuri bukan hanya karena kita berhasil sampai ke Makkah, tetapi karena Allah memberi kita kesempatan untuk datang sebagai seorang hamba.
