Tawakkul atau Tawaakul?
Ada dua kata dalam bahasa Arab yang terdengar hampir sama, tetapi memiliki makna yang sangat berbeda: tawakkul dan tawaakul. Perbedaan satu huruf ini ternyata penting, karena salah memahaminya bisa membuat seseorang keliru dalam menjalani hubungan antara usaha dan berserah diri kepada Allah SWT.
Tawakkul sering diterjemahkan sebagai “berserah diri” atau “percaya kepada Allah”. Namun, tawakkul bukan berarti duduk diam dan menunggu semuanya terjadi. Justru di dalamnya terdapat usaha, ikhtiar, kemudian menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
![]()
Apa Arti Tawakkul Sebenarnya?
Kata tawakkul berasal dari akar kata wakala, yang memiliki makna mewakilkan atau menyerahkan suatu urusan kepada pihak yang dipercaya untuk mengurusnya. Dari akar kata yang sama kita mengenal salah satu nama Allah, Al-Wakil, yaitu Dzat yang menjadi tempat bersandar dan sebaik-baik pengurus segala urusan.
Maka, tawakkul bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Tawakkul adalah ketika seseorang melakukan bagian yang menjadi tanggung jawabnya dengan sebaik mungkin, kemudian mempercayakan hasil akhirnya kepada Allah.
Kita berusaha. Kita merencanakan. Kita berdoa. Kita mengambil langkah. Setelah itu, kita sadar bahwa hasil akhir bukan sepenuhnya berada di tangan kita.
Allah SWT berfirman:
“Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”
QS. Ali ‘Imran: 159
Perhatikan urutannya: membulatkan tekad terlebih dahulu, kemudian bertawakkal. Ada keputusan dan usaha sebelum berserah diri.
“Ikat Unta, Baru Bertawakkal”
Ada sebuah hadits yang sangat sering dijadikan gambaran sederhana tentang tawakkul. Seseorang bertanya kepada Rasulullah ﷺ apakah ia harus mengikat untanya kemudian bertawakkal, atau membiarkannya lalu bertawakkal.
Rasulullah ﷺ menjawab:
“Ikatlah ia dan bertawakkallah.”
HR. Tirmidzi
Pesannya sederhana, tetapi sangat dalam. Jangan meninggalkan ikhtiar dengan alasan percaya kepada Allah.
Jika ingin lulus, belajar. Jika ingin sehat, jaga tubuh dan cari pengobatan ketika diperlukan. Jika ingin membangun usaha, lakukan perencanaan dan bekerja. Jika ingin melakukan perjalanan ibadah, persiapkan dokumen, fisik, ilmu, dan kebutuhan perjalanan.
Setelah semua yang mampu kita lakukan sudah dijalankan, barulah hati menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Lalu Apa Itu Tawaakul?
Berbeda dengan tawakkul, tawaakul menggambarkan sikap pasif: tidak berusaha, tidak mengambil langkah, tetapi kemudian menyebutnya sebagai bentuk tawakkal kepada Allah.
Padahal, menyerah dan bertawakkal bukanlah hal yang sama.
Tawaakul bisa terlihat seperti seseorang yang sebenarnya mampu berusaha, tetapi memilih tidak melakukan apa pun. Ketika hasilnya tidak sesuai harapan, ia berkata, “Sudah, saya tawakkal.”
Padahal tawakkal bukan alasan untuk meninggalkan ikhtiar.
Dalam sebuah hadits tentang burung, Rasulullah ﷺ menggambarkan bagaimana Allah memberikan rezeki kepada makhluk-Nya. Burung keluar dari sarangnya dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang. Hadits ini diriwayatkan oleh Sunnah.com dalam riwayat Tirmidzi.
Menariknya, burung tersebut keluar dari sarangnya. Ia tidak diam menunggu makanan datang kepadanya.
Burung percaya kepada rezeki Allah, tetapi burung tetap terbang.
Tawakkul Bukan Berhenti Berusaha
Inilah bagian yang sering terlupakan. Tawakkul bukan tentang seberapa sedikit usaha yang kita lakukan. Tawakkul justru tentang seberapa sungguh-sungguh kita berusaha tanpa menjadikan hasil sebagai sesuatu yang harus selalu sesuai dengan keinginan kita.
Kita tidak bisa mengendalikan semua hal. Kita bisa mengendalikan usaha, tetapi tidak bisa memaksa hasil.
Kita bisa mempersiapkan perjalanan umroh sebaik mungkin, tetapi tetap menyerahkan kelancaran perjalanan kepada Allah. Kita bisa mempersiapkan fisik dan ilmu sebelum berangkat ke Tanah Suci, tetapi tetap memahami bahwa kesempatan untuk sampai di sana adalah kehendak Allah.
Di situlah tawakkul menjadi nyata.
Belajar Tawakkul dari Perjalanan Umroh
Perjalanan menuju Tanah Suci juga bisa menjadi salah satu bentuk latihan tawakkul. Jamaah mempersiapkan banyak hal: dokumen, kesehatan, perlengkapan, jadwal perjalanan, hingga kebutuhan selama berada di Mekkah dan Madinah.
Semua persiapan tersebut bukan tanda bahwa kita kurang percaya kepada Allah. Justru ikhtiar adalah bagian dari bentuk tanggung jawab kita.
Setelah itu, hati diserahkan kepada Allah.
Bagi jamaah yang ingin mempersiapkan perjalanan umroh dengan pendampingan dan layanan yang lebih terarah, King Salman Travel hadir untuk membantu berbagai kebutuhan perjalanan jamaah menuju Tanah Suci. Ikhtiar dipersiapkan sebaik mungkin, sementara hasil akhirnya tetap kita serahkan kepada Allah SWT.
Pada akhirnya, tawakkul bukan memilih antara usaha atau percaya kepada Allah. Tawakkul adalah melakukan keduanya.
Lakukan apa yang berada dalam kemampuan kita. Berdoa sekuat hati. Ambil langkah yang diperlukan. Setelah itu, lepaskan rasa ingin mengendalikan hasil.
Karena kita mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi besok, tetapi kita tahu siapa yang mengatur segala sesuatu.
Berusaha dengan tangan, berserah dengan hati. Itulah tawakkul.
