Ada satu hadits tentang haji dan umroh yang menarik untuk direnungkan. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Laksanakanlah haji dan umroh secara berurutan, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa sebagaimana alat tiup api menghilangkan kotoran dari besi.” HR. An-Nasa’i No. 2630
Hadits ini menunjukkan besarnya keutamaan haji dan umroh. Rasulullah ﷺ tidak hanya menyebut penghapusan dosa, tetapi juga menyebut kemiskinan.
Namun, apakah maksudnya setiap orang yang melakukan umroh pasti langsung menjadi kaya?
Tentu tidak sesederhana itu.
Apa Maksud “Menghilangkan Kemiskinan”?
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa haji dan umroh dapat menjadi sebab datangnya kecukupan dan keberkahan dari Allah. Ini bukan janji bahwa seseorang akan pulang dari Tanah Suci dengan jumlah uang yang lebih banyak.
Rezeki sendiri tidak selalu berbentuk uang.
Kesehatan adalah rezeki. Keluarga yang baik adalah rezeki. Hati yang tenang adalah rezeki. Pekerjaan yang halal adalah rezeki. Bahkan kemampuan untuk terus beribadah juga merupakan nikmat yang besar.
Karena itu, hadits ini lebih tepat dipahami sebagai keutamaan dan keberkahan yang Allah berikan melalui ibadah haji dan umroh, bukan sebagai formula untuk menjadi kaya.
Bagaimana dengan Dosa?
Bagian ini juga sangat penting.
Rasulullah ﷺ menggambarkan penghapusan dosa seperti kotoran pada besi yang dibersihkan oleh alat tiup api. Gambaran tersebut menunjukkan proses pembersihan yang kuat.
Umroh bukan sekadar perjalanan dari Indonesia menuju Mekkah.
Ada ihram, tawaf, sa'i, doa, dzikir, meninggalkan larangan ihram, serta berbagai bentuk ketaatan yang dilakukan selama perjalanan.
Semua itu menjadi kesempatan bagi seorang Muslim untuk memperbaiki hubungan dengan Allah.
Tetapi jangan sampai hadits ini dipahami sebagai alasan untuk sengaja berbuat dosa lalu berpikir, “Nanti juga bisa dihapus ketika umroh.”
Justru sebaliknya.
Umroh seharusnya membuat seseorang semakin ingin meninggalkan dosa setelah pulang.
Kenapa Rasulullah ﷺ Menghubungkan Haji dan Umroh dengan Rezeki?
Karena dalam Islam, ibadah dan kehidupan dunia tidak selalu dipisahkan.
Allah SWT berfirman:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” QS. At-Talaq: 2–3
Namun tetap ada satu hal yang perlu diingat: tawakkal bukan berarti berhenti berusaha.
Seorang Muslim tetap bekerja, mencari penghasilan halal, mengatur keuangan, dan melakukan ikhtiar. Setelah itu, ia menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Jadi jangan menjadikan umroh sebagai “investasi agar cepat kaya”.
Datanglah ke Tanah Suci sebagai seorang hamba yang ingin beribadah.
Jika kemudian Allah memberikan kelapangan rezeki dan keberkahan, itu adalah karunia-Nya.
Umroh Bukan Tentang Seberapa Sering Kita Pergi
Ada orang yang mampu umroh berkali-kali. Ada yang baru sekali. Ada yang bertahun-tahun menabung dan bahkan belum pernah sampai ke Mekkah.
Jangan mengukur kedekatan seseorang dengan Allah hanya dari berapa kali ia menginjakkan kaki di Tanah Suci.
Yang paling penting adalah apa yang terjadi pada hati dan perilaku kita setelah kembali.
Kalau setelah umroh kita menjadi lebih rajin shalat, lebih menjaga lisan, lebih mudah bersedekah, lebih menghormati orang tua, dan lebih takut melakukan dosa, maka perjalanan itu benar-benar meninggalkan bekas.
Sebab tujuan akhirnya bukan sekadar pernah berada di depan Ka'bah.
Tetapi bagaimana pengalaman itu membuat kita semakin dekat kepada Allah.
Bagi yang sedang mempersiapkan umroh, King Salman Travel dapat membantu kebutuhan perjalanan menuju Tanah Suci sehingga jamaah dapat lebih fokus mempersiapkan ibadah, bukan hanya urusan teknis perjalanan.
Umroh bukan jaminan menjadi kaya. Tetapi ia adalah kesempatan untuk pulang membawa sesuatu yang jauh lebih berharga: hati yang lebih bersih dan hidup yang lebih dekat kepada Allah.