Jangan Asal Memahami Al-Qur’an dari Terjemahan
Pernahkah kita berpikir, kalau sahabat Nabi saja bisa keliru memahami sebuah ayat, bagaimana dengan kita?
Qudamah bin Mazh’un pernah memahami QS. Al-Ma’idah ayat 93 secara keliru. Ia mengira bahwa orang beriman yang mengonsumsi sesuatu yang kemudian diharamkan tidak berdosa, selama ia bertakwa dan beramal saleh.
Padahal, ayat tersebut memiliki konteks dan penjelasan yang tidak bisa dilepaskan begitu saja dari ayat-ayat lain serta penjelasan Rasulullah ﷺ.
Kisah ini menjadi pelajaran penting: dekat dengan zaman turunnya wahyu tidak otomatis membuat seseorang memahami Al-Qur’an dengan sempurna.
Mengapa Asbabun Nuzul penting?
Asbabun Nuzul adalah ilmu yang membahas sebab atau latar belakang turunnya suatu ayat. Dengan mengetahui konteksnya, kita bisa memahami kepada siapa ayat ditujukan, persoalan apa yang sedang terjadi, dan bagaimana pesan ayat tersebut diterapkan.
Tanpa konteks, seseorang bisa mengambil satu potongan ayat lalu menarik kesimpulan yang terlalu jauh.
Inilah mengapa memahami Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan membaca terjemahan. Terjemahan membantu kita menangkap makna umum, tetapi tidak selalu menjelaskan konteks sejarah, hubungan antarayat, penggunaan bahasa Arab, atau penjelasan ulama tafsir.
Lalu bagaimana cara memahami konteks ayat dengan benar?
Pertama, lihat ayat sebelum dan sesudahnya. Jangan mengambil satu ayat secara terpisah jika pembahasannya masih berhubungan dengan rangkaian ayat lain.
Kedua, pelajari Asbabun Nuzul jika memang ada riwayat yang sahih. Tidak semua ayat memiliki sebab turun khusus, sehingga jangan memaksakan sebuah cerita sebagai Asbabun Nuzul tanpa dasar yang kuat.
Ketiga, bandingkan dengan hadis dan penjelasan Rasulullah ﷺ. Nabi adalah orang yang menerima wahyu sekaligus menjelaskan maksudnya kepada para sahabat.
Keempat, rujuk kepada tafsir dan ulama yang memiliki kompetensi. Semangat belajar agama adalah sesuatu yang baik, tetapi semangat tanpa metodologi dapat membuat seseorang terlalu cepat menyimpulkan.
Jangan sampai semangat beragama membuat kita merasa paling memahami
Ada perbedaan antara membaca Al-Qur’an dan memahami Al-Qur’an secara mendalam.
Kita tentu dianjurkan untuk membaca dan mentadabburi Al-Qur’an. Namun, ketika masuk pada persoalan tafsir, hukum, konteks sejarah, atau ayat-ayat yang memiliki makna kompleks, diperlukan perangkat ilmu yang tidak sederhana.
Justru semakin banyak ilmu yang dimiliki, biasanya semakin hati-hati seseorang ketika mengatakan, “Ayat ini maksudnya pasti begini.”
Karena Al-Qur’an bukan sekadar kumpulan kalimat yang bisa dilepaskan dari konteksnya.
Belajar Al-Qur’an bukan hanya tentang menemukan ayat yang sesuai dengan pendapat kita, tetapi tentang berusaha memahami apa yang sebenarnya Allah kehendaki dari ayat tersebut.
Dan di situlah pentingnya Asbabun Nuzul, ilmu tafsir, hadis, bahasa Arab, serta bimbingan para ulama.
Untuk yang ingin memperdalam ilmu agama sebelum atau selama perjalanan umrah, jangan hanya mempersiapkan koper dan itinerary. Persiapkan juga bekal ilmunya. Karena perjalanan menuju Baitullah akan jauh lebih bermakna ketika kita memahami ibadah yang sedang kita jalankan. Untuk kebutuhan perjalanan umrah, King Salman Travel dapat menjadi salah satu pilihan yang bisa dipertimbangkan.
