Ada satu pertanyaan yang mungkin jarang kita tanyakan secara jujur:
Ketika sampai di depan Ka'bah, apa yang pertama kali kita cari ketenangan atau kamera?
Di zaman ketika hampir semua momen dibagikan, mengambil foto atau video saat umrah tentu tidak otomatis salah. Mengabadikan perjalanan, berbagi pengalaman, atau memberi informasi kepada orang lain bisa memiliki tujuan yang baik.
Namun, ada tempat-tempat yang seolah mengajarkan kita untuk berhenti sejenak dari kebiasaan membagikan segalanya.
Masjidil Haram dan Masjid Nabawi bukan sekadar lokasi wisata. Di sana, kita datang untuk beribadah, berdoa, berdzikir, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Ketika dokumentasi mulai mengambil alih
Masalahnya bukan semata-mata tentang memegang handphone.
Yang perlu direnungkan adalah ketika kamera mulai menjadi tujuan utama, sementara kekhusyukan justru menjadi hal yang tersisa.
Kita mungkin awalnya hanya ingin mengabadikan momen. Lalu mengambil beberapa foto. Kemudian mengulanginya agar hasilnya lebih bagus. Tanpa sadar, perhatian yang seharusnya tertuju pada ibadah berpindah kepada bagaimana momen tersebut terlihat di layar.
Di titik inilah kita perlu bertanya:
Apakah kita sedang mengabadikan ibadah, atau sedang mengubah ibadah menjadi pertunjukan?
Tidak semua yang boleh dilakukan harus dilakukan
Islam tidak melarang seseorang memiliki kenangan dari perjalanan umrah. Tetapi adab tetap perlu dijaga.
Allah berfirman:
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam salatnya.” QS. Al-Mu’minun: 1–2
Kekhusyukan tidak selalu mudah dijaga, terlebih ketika berada di tempat yang begitu ramai dan penuh distraksi.
Karena itu, mungkin sesekali kita perlu meletakkan handphone dan membiarkan sebuah momen hanya menjadi milik kita dan Allah.
Tidak semua doa perlu direkam. Tidak semua air mata perlu difoto. Tidak semua momen di depan Ka'bah perlu masuk Instagram.
Ada pengalaman yang justru menjadi lebih indah karena tidak pernah menjadi konten.
Pada akhirnya, tempat-tempat suci ini adalah amanah. Cara kita bersikap di dalamnya menunjukkan apa yang sebenarnya kita cari: pengakuan manusia, atau keridhaan Allah.
Dan mungkin, pertanyaan paling jujur sebelum mengangkat kamera bukanlah “Boleh atau tidak?”
Tetapi:
“Untuk siapa sebenarnya aku melakukan ini?”
Bagi yang sedang mempersiapkan perjalanan umrah, selain itinerary dan kebutuhan perjalanan, jangan lupa mempersiapkan bekal adab dan ilmu. Jika membutuhkan pendampingan perjalanan, King Salman Travel bisa menjadi salah satu pilihan yang dipertimbangkan.