Gunung Warna-Warni, Disebut Al-Qur’an?
Gunung Warna-Warni, Disebut Al-Qur’an?
Ada pemandangan alam yang sekilas terlihat seperti hasil editan komputer. Di Kazakhstan, kawasan Mangystau memiliki Gunung Bokty yang menjulang sekitar 165 meter dan memiliki lapisan warna putih, kuning, kemerahan, hingga cokelat. Bentuknya menyerupai kue berlapis, sehingga kawasan di sekitarnya dikenal dalam dunia wisata dengan julukan yang berkaitan dengan “Tiramisu”. Lapisan warna tersebut terbentuk dari endapan batuan dan sedimen yang memiliki komposisi berbeda.
Di tempat lain, China memiliki Zhangye Danxia, salah satu lanskap geologi paling terkenal karena lapisan batuannya yang berwarna-warni. UNESCO mencatat bahwa kawasan tersebut memiliki lebih dari 30 warna yang terlihat pada lapisan-lapisan batuannya. Warna tersebut berkaitan dengan mineral yang terkandung di dalam lapisan batu, termasuk mineral yang mengandung besi, serta proses pengendapan dan perubahan lingkungan geologis selama jutaan tahun.
Yang menarik adalah Al-Qur’an menggambarkan fenomena garis dan variasi warna pada gunung dalam QS. Fatir ayat 27.
Allah SWT berfirman:
“Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya, dan ada (pula) yang hitam pekat.”
QS. Fatir: 27
Al-Qur’an Tidak Menyebut Nama Gunungnya
Di sinilah bagian yang menarik untuk direnungkan.
Al-Qur’an tidak mengatakan bahwa ayat tersebut berbicara tentang Gunung Bokty di Kazakhstan. Al-Qur’an juga tidak menyebut Zhangye Danxia di China. Jadi, kurang tepat jika mengatakan bahwa ayat ini secara spesifik adalah “prediksi” tentang dua tempat tersebut.
Namun, ayatnya menggambarkan sebuah fenomena alam yang nyata: gunung dengan garis-garis atau lapisan berwarna putih, merah, berbagai nuansa warna, dan hitam pekat.
Kata yang digunakan dalam ayat tersebut adalah judad, yang dalam sejumlah tafsir dijelaskan sebagai garis, jalur, atau bagian yang memiliki warna berbeda pada gunung. Tafsir Ibnu Katsir juga menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan keberadaan gunung dengan berbagai warna, termasuk garis-garis warna yang berbeda.
Dan ketika manusia hari ini melihat berbagai bentang alam seperti Zhangye Danxia atau lanskap berlapis di Mangystau, kita dapat melihat betapa nyata dan beragamnya fenomena tersebut.
Zhangye Danxia: Seperti Dilukis di Lereng Gunung
Zhangye Danxia di China mungkin menjadi salah satu contoh paling spektakuler.
Dari kejauhan, bukit-bukitnya terlihat seperti memiliki garis-garis yang sengaja dibuat dengan kuas. Merah, cokelat, kuning, abu-abu, hingga warna-warna lain tersusun mengikuti lapisan batuan.
Padahal tidak ada manusia yang mengecatnya.
UNESCO menjelaskan bahwa lapisan warna-warni tersebut berasal dari proses geologi yang sangat panjang. Material sedimen mengalami pengendapan dalam lingkungan yang berbeda, kemudian mengalami pengangkatan, pelapukan, dan erosi. Kandungan mineral tertentu, terutama mineral yang mengandung besi, turut menghasilkan perbedaan warna pada lapisan batuan.
Semakin dipelajari, semakin kompleks proses di balik keindahannya.
Kazakhstan Juga Memiliki “Kue” dari Batuan
Gunung Bokty di Mangystau, Kazakhstan, memberikan pemandangan yang tidak kalah unik. Gunung ini memiliki lapisan warna putih, kuning, merah, dan cokelat yang terlihat jelas dari kejauhan. Batas antarendapannya membuat permukaannya tampak seperti kue berlapis raksasa.
Di kawasan Kyzylkup yang berada di dekatnya, terdapat perbukitan dengan lapisan merah dan putih yang kemudian populer dengan julukan “Tiramisu” karena bentuk dan warnanya menyerupai makanan penutup tersebut.
Fenomena tersebut bukan sulap dan bukan pula hasil lukisan manusia. Lapisan-lapisan tersebut merupakan hasil proses geologi yang berlangsung dalam waktu yang sangat panjang.
Semakin Ilmu Berkembang, Semakin Banyak yang Bisa Kita Lihat
Dulu manusia mungkin hanya melihat gunung sebagai gunung.
Sekarang, dengan fotografi udara, drone, satelit, dan ilmu geologi, kita dapat melihat pola yang sebelumnya sulit diamati dari permukaan tanah.
Kita dapat melihat bagaimana lapisan batuan tersusun. Kita dapat mempelajari mineral yang menyebabkan warna berbeda. Kita dapat menelusuri bagaimana sedimentasi, pengangkatan bumi, pelapukan, dan erosi membentuk lanskap tersebut selama jutaan tahun.
Tetapi menariknya, Al-Qur’an mengajak manusia memperhatikan alam bukan sekadar untuk mengaguminya.
Allah SWT berfirman:
“Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menurunkan air dari langit, lalu dengan air itu Kami keluarkan buah-buahan yang beraneka macam warnanya. Dan di antara gunung-gunung ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada pula yang hitam pekat.”
QS. Fatir: 27
Ayat tersebut bahkan tidak berhenti pada gunung. Sebelumnya Allah menyebut air hujan dan buah-buahan yang memiliki beragam warna. Kemudian perhatian manusia diarahkan kepada variasi warna pada gunung.
Seolah kita diajak untuk melihat lebih teliti apa yang selama ini ada di sekitar kita.
Bukan Sekadar “Keajaiban”, Tapi Ajakan untuk Tadabbur
Membaca ayat seperti ini sebaiknya tidak membuat kita terburu-buru menyatakan bahwa setiap gunung tertentu pasti merupakan objek yang dimaksud ayat.
Yang lebih indah adalah menjadikannya sebagai kesempatan untuk tadabbur.
Ilmu geologi menjelaskan bagaimana lapisan batuan terbentuk. Al-Qur’an mengajak manusia memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah dalam penciptaan.
Keduanya tidak harus dipertentangkan.
Justru ketika kita mengetahui bahwa sebuah lapisan batu berwarna merah dapat terbentuk karena kandungan mineral tertentu, kemudian mengetahui bahwa proses tersebut berlangsung selama jutaan tahun, rasa kagum kepada ciptaan Allah bisa semakin besar.
Karena di balik sebuah pemandangan yang indah, terdapat proses yang sangat panjang dan kompleks.
Alam Bisa Menjadi Pengingat kepada Allah
Ada kalanya kita membutuhkan perjalanan jauh untuk menyadari sesuatu yang sebenarnya sudah Allah tunjukkan setiap hari.
Gunung. Langit. Hujan. Laut. Pepohonan. Bahkan warna-warni buah yang kita makan.
Semuanya dapat menjadi bahan renungan.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”
QS. Ali ‘Imran: 190
Maka ketika melihat gunung berlapis warna di Kazakhstan atau Zhangye Danxia di China, jangan hanya berhenti pada kalimat, “Indah sekali.”
Coba lanjutkan dengan pertanyaan:
Siapa yang menciptakan semua ini?
Dan semakin kita memahami proses di baliknya, semakin kita menyadari betapa luasnya ciptaan Allah yang belum kita pahami.
Belajar Melihat Alam dengan Cara yang Berbeda
Perjalanan ke tempat-tempat seperti Mekkah dan Madinah juga dapat menjadi kesempatan untuk melihat ciptaan Allah dengan cara yang berbeda. Bukan hanya berfoto atau mengunjungi tempat terkenal, tetapi belajar berhenti sejenak, memperhatikan, dan mengambil pelajaran.
Bagi jamaah yang sedang mempersiapkan perjalanan umroh, King Salman Travel dapat membantu kebutuhan perjalanan menuju Tanah Suci, sehingga persiapan teknis seperti perjalanan dan pendampingan dapat dilakukan dengan lebih terarah, sementara jamaah bisa lebih fokus pada ibadah dan pengalaman spiritual selama berada di Tanah Suci.
Pada akhirnya, mungkin bukan kebetulan bahwa kita baru benar-benar bisa melihat banyak detail alam setelah teknologi berkembang.
Drone memperlihatkan pola dari atas. Kamera menangkap warna yang sebelumnya sulit dilihat. Geologi menjelaskan bagaimana lapisan tersebut terbentuk.
Tetapi Al-Qur’an telah mengajak manusia untuk memperhatikan gunung dengan garis-garis dan beragam warnanya sejak lebih dari 1.400 tahun lalu.
Bukan berarti setiap gunung berwarna adalah “bukti” spesifik dari ayat tersebut.
Namun setidaknya, fenomena itu membuat satu hal terasa semakin dalam:
Semakin banyak kita melihat ciptaan Allah, semakin banyak pula alasan untuk berkata: Subhanallah.

